Selasa, 04 Juli 2017

Juli 04, 2017 Posted by Unknown 1 comment
Posted by Unknown on Juli 04, 2017 with 1 comment


            Kala itu bulan puasa, seperti biasa matahari menyelinap diantara dedaunan, tibalah amplop coklat yang ditujukan untuk Tio Adi Wicaksana , kini umurnya hendak 25 tahun. Meskipun anak pertama, dia tidak pernah membantu meringankan beban orang tuanya yang masih menyekolahkan adiknya yang baru kelas 1 SMA dan kelas 6 SD. Tak banyak yang diucapkan saat masih dirumah setahun yang lalu, hanya sepenggal kata yang membekukan hari. Bukan sedang sariawan ataupun sakit tenggorokan, melainkan memendam kenyataan lain dari suatu kenyataan yang membutuhkan pernyataan.
            “Gimana kuliahmu, Nak?” tanya Ibunya waktu ia masih belum lulus kuliah.
            “Tinggal nunggu di ACC sama dosen, bu..” jawabnya. Selalu begitu dia menjawab, dan selalu begitu Ibunya bertanya mengenai kuliah Tio. Sejak masuk kuliah S1 hingga sekarang  telah memakan waktu tiga perempat windu lamanya, entah Tio berbohong atau tidak Ibunya tak tahu. Seringkali Ibunya curiga, tapi apalah daya hendak dikata, hanya bentakan yang didapat dari anaknya itu. Jika disinggung mengenai itu Tio sering kali menghindar raut wajahnya berubah tak seperti sebelumnya, katup mulutnya terkunci entah menyimpan apa. Tak pernah mengatakan yang sebenarnya.

            Entah sudah berapa puluh kali Ibunya bertanya mengenai kuliahnya yang masih belum berujung mengenakan trompi hitam lalu dia menyampaikan tentang waktu kelulusannya.
            “Bu, udah di ACC laporannya sama dosen..” ucapnya pada Ibunya.
Ibunya dengan tersenyum lega menjawab, “Alhamdulillah ... Trus wisudanya kapan?” tanya Ibunya.
            “Wisudanya ngga usah ikut ya bu, yang penting udah lulus..” jawabnya dengan meyakinkan pada Ibunya. Ibunya hanya mengiyakan karena tak banyak tahu menahu mengenai masalah perkuliahan.

            Sebulan berlalu. Dua bulan berlalu. Namun Tio tak juga mencari pekerjaan, dirumah hanya memburu bayang-bayang. Terkadang pertanyaan menggenai itu dari Ibunya datang, begitu pula jawabannya.
            “Tio, kamu kan udah lulus, penginnya mau kerja dimana?”  tanya Ibunya dengan lembut.
            “Penginnya di Ibukota bu, cari pengalaman dulu.” Jawabnya. “Seminggu lagi aku mau kesana, cari kerja.” Lanjutnya.
            “Ooh gitu, trus besok mau nginep dirumah paman kan?”
            “Iya bu, daripada kost nanti tambah biaya.”
            Ibunya senang karena Tio hendak berangkat mencari pekerjaan. Sejak kecil hingga 25 tahun kebutuhannya selalu dipenuhi orang tuanya karena itu kewajiban mereka sebagai orang tua, tapi tanpa merasa terbebani Tio tak pernah mencoba kerja sambal kuliah, sampai rokok dia juga meminta uang untuk membelinya, tak hanya sebatang dua batang sehari tapi kadang mencapai satu bungkus, entah berapa banyak bungkus yang dia hisap itu dari mulai merokok sampai kini.

            Keberangkatannya saat kabut putih masih menutupi jarak pandang kedepan di pagi hari ditemani seberkas cahaya yang menembus menerangi jalan dipagi hari, Tio mengenakan jaket kulit agak tebal berwarna hitam dan tas warna abu-abu yang dimilikinya sejak masih mengenakan seragam putih abu-abu yang harganya tak murah, jadi hingga kini belum rusak berisi pakaian serta dompet bertuliskan kata-kata motivasi -tapi apakah memotivasinya atau tidak- yang berisi uang -dari ibunya tentunya. Di Jakarta ia bersama pamannya yang hanya memiliki satu anak menyambutnya dengan baik, tapi kelihatannya istrinya tidak menyukai jika ada saudara dari pamannya datang apalagi menginap beberapa hari disana. Tak lama disana, Tio pulang kembali ke kampung halamannya hendak mengambil beberapa surat keluarga yang diperlukan.
            “Bu, besok aku mau pulang ambil surat yang kurang terus berangkat lagi.” Ucapnya pada Ibunya melalui telepon.
            “Ya udah ngga papa, kamu udah dapet kerja apa?” tanya Ibunya.
            “Di expor-impor barang bu.”
            “Kamu berangkat dari situ kapan?”
            “Nanti sore bu, besok pagi ada yang jemput kan?
            “Palingan Ibu yang jemput besok Ti.”
            “Ya udah bu.”
Cukup banyak yang dibicarakan oleh Tio dan Ibunya saat itu. Sesampainya Tio dirumah hari berikutnya langsung kembali ke Jakarta lagi. Entah sebenarnya kemana, tapi itulah tujuan Tio yang disampaikannya pada Ibunya.

            Hendak seminggu sejak kepulangannya yang terakhir kemudian hari kedelapan dia kembali pulang ke rumah. Bukan untuk mengambil surat lagi atau apa melainkan hendak mengemasi pakaian karena Tio ditugaskan di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya itu. Tio meminta uang untuk membeli keperluan yang mungkin diperlukan saat dia bekerja disana, tanpa berpikir panjang Ibunya memberinya, tak hanya untuk membeli keperluan tetapi uang saku untuk berangkat kesana juga dikasih, karena begitu senangnya kalau anak sulungnya akan mulai bekerja, terselip juga kekecewaan karena berpisah jauh dengan Tio meski masih bisa mendengar suaranya lewat telepon tapi Ibu siapa yang ingin jauh dari anaknya. Saat sudah mulai bekerja terkadang Tio masih meminta uang pada Ibunya, kartu ATMnya sudah kadaluarnya alasannya. Namun pada bulan kedua Tio bekerja tak ada kabar apapun, angin yang berlalu tak membawa kabar apapun tentangnya. Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Hingga sepuluh bulan masih tak ada kabar, tanda tanya gundah hati Ibunya entah kapan akan terjawab kerinduan tentang anaknya. Antara kerinduan dan jawaban itu mungkin terjawab dalam kesempurnaan waktu ataukan akan tersimpan dilangit agar menjadi mendung yang mewakili perasaannya kini? Bagaimana kabar anakku? Sedang apa dia? Mengapa dia tak memberi kabar? Begitulah yang terlintas dibenak Ibunya. Apakah kerinduan itu hanya jadi mimpi diatas mimpi, hanya waktu yang akan menjawabnya.

            Amplop coklat itu ternyata berisi surat kontrak Tio yang bekerja di negeri orang yang jauh disana, Ibunya  kaget dan bingung awalnya. Kok disini tertulisnya kerja di negri orang? Dia bilangnya di pulau sebelah? Tapi disini benar ada surat kontraknya dan tanda tangan Tio, nama tempatnya di Denpasar. Kok bisa? Yang bener ini yang mana? Gumam ibunya. Ya ternyata benar memang ada yang mencurigakan tentang dimana Tio bekerja, karena kepulangan yang katanya mengambil surat, keberangkatan selanjutnya bukan ke Jakarta melainkan ke Denpasar dimana itu adalah letak perusahaan yang menerimanya bekerja. Tak lama setelah surat ini datanglah sebuah amplop lagi, bukan dari tempat kerja Tio. Tertulis nama Perguruan Tinggi dimana sebelumnya Tio kuliah, didalamnya berisi daftar mahasiswa yang dikeluarkan. Lebih mengagetkan lagi karena ada nama Tio di daftar itu. Surat-surat yang datang seperti pukulan yang datang bertubi-tubi, sudah jatuh tertimpa tangga begitulah mungkin yang sedang dialami oleh Ibunya Tio, air susu dibalas air ketuban yang diberikan Tio pada Ibunya yang telah merawat dan memenuhi kebutuhannya secara materi. Hari berikutnya Ibunya Tio lansung tumbang tak sanggup menerima kenyataan bahwa begitu lama ia dibohongi oleh anaknya. Tio memang sebelumnya bilang sudah merampungkan S1nya, tapi kenyataannya tak seperti itu, hanya sampai bangku D3 sudah dikeluarkan. Entah apa alasan mengapa Tio tak serius bersekolah, entah berapa banyak biaya yang dkeluarkan oleh Ibunya yang telah membanting tulang sendirian. Karena ayahnya telah meninggal saat Tio masih duduk di bangku kelas 3 SMP karena kecelakaan, sejak kecil Tio dan adik-adiknya tinggal dan dibesarkan oleh neneknya tanpa Ibunya.

            Hampa, kesal, amarah, seluruhnya dirasakan oleh Ibunya Tio, ingin menumpahkan air mata, tapi air matanya telah mengering menjadi sungai dimusim kemarau panjang yang tak ada airnya. Setelah setahun tak ada kabar, tiba-iba Tio menghubungi Ibunya dengan telepon, belum sempat banyak kata dari Tio, Ibunya menumpahkan perasaan yang ia pendam selama setahun itu.
            “Tio.. Sebenernya kamu kerja dimana?” tanya Ibunya dengan nada kecewa, Tio yang belum dikasih tahu jika ada surat datang dari tempat kerja dan tempat kuliahnya. Entah sebenarnya sudah tahu atau belum Ibunya tidak tahu. Sepertinya sudah tahu  mengenai hal itu.
            “Kan aku dulu udah pernah ngasih tau bu.” Jawabnya.
            “Kalo kuliahmu sebenernya gimana?” tanya Ibunya lagi.
            “Udah selese bu, dulu kan juga udah dikasih tau..” Tio masih belum mengatakan yang sebenarnya. “Emangnya kenapa sih bu, tanya-tanya begitu?” lanjutnya.
            “Kemaren ada surat dari tempat kerjamu… Ada yang mau kamu jelasin ngga sama Ibu?” tanya Ibunya. “Trus ada surat dari Universitasmu, apa iya kalo kamu dikeluarin?” lanjutnya. Banyak hal yang perlu ditanyakan pada Tio begitu pula sebaliknya banyak yang harus dijelaskan Tio pada ibunya.
Tio diam sejenak, “Aku ngga nyelesain kuliah karna Ibu ngga nurutin apa yang aku mau.”
            “Ngga nuruti apa lagi? Kamu sampe segitu besarnya masih Ibu cukupi semua kebutuhanmu tanpa harus bekerja, liat yang lain. Yang lain udah kerja, sedangkan kamu? Kamu beruntung, tinggal minta langsung dikasih.” Jawab Ibunya Tio.
            “Ya.. Kebutuhan materiku memang Ibu penuhi, tapi tidak dengan kebutuhan batinku bu..” jawab Tio pada Ibunya. “Aku kan dulu udah pernah minta buat lamarin Tasya.. Tapi apa?” lanjutnya. Tasya yang sudah dipacarinya sejak masih mengenakan seragam putih abu-abu itu masih setia menunggu kepastian Tio yang masih berlarian di cakrawala yang luas. Sempat Tasya hendak dinikahi oleh orang lain saat Tio pergi bekerja yang tak tau dimana dan lama tak ada kabar darinya, tapi mungkin memang benar kalau jodoh tak akan kemana, belum sempat dinikahi sudah putus ditengah jalan. Memang Tasya menunggu kepastian, tapi setelah Tio menyelesaikan kuliahnya, yang akhirnya Tio memupuskan harapan yang telah lama dirajut.
            “Tasya udah bilang kan dulu kalo dia bakal nunggu kamu sampe selesai kuliah. Habis itu tinggal nunggu keputusanmu, mau lanjutin hubungan apa nggak.” Jawab Ibunya.
            “Tapikan aku juga pengin ada ikatan sama Tasya bu.” Tio mengelak.
            “Kamu juga harusnya konsisten, selesein dulu apa yang harusnya diselesein, kuliahmu juga buat masa depanmu, buat penuhi kebutuhan  kamu dan Tasya.” jawab Ibunya. “Apa kamu ngga kasian sama Tasya yang udah nungguin kamu, tapi kamu ngga jelas kaya gitu, Ibu ya belum bisa menuhin buat ngelamarin Tasya. Tasya butuh kepastian kamu. Kalo sekarang Ibu ngelamarin Tasya, Ibu mau jawab apa kalo ditanya orang tuanya kapan kamu mau nikahin anaknya?” tanya Ibunya lagi.
Sementara itu pikiran Tio mengembara menembus batas langit mendengar kata-kata itu dari Ibunya yag hamper 50 tahun umurnya. Bola matanya yang dingin pudar diam tak terbaca, entah apa yang tersembunyi dibenaknya kin Sedangkan Tasya, ia menasehati Tio karena memang semuanya bukan sepenuhnya kesalahan Ibunya tapi lebih pada Tio yang tidak mensyukuri yang diberikan oleh Ibunya. Tio yang dari kecil tidak dirawat oleh Ibunya mungkin memang kekurangan kasih sayang dari orang tuanya terutama Ibunya walaupun kebutuhan lainnya selalu tercukupi, hampir tidak pernah kekurangan, begitu pula adik-adiknya. Itulah yang mungkin membuatnya tertekan secara batin. Tio yang hanya menuruti hawa nafsu serta kurangnya usaha yang dilakukan agar keinginannya segera tercapai.
Setelah percakapan itu Tio kembali tidak menghubungi Ibunya, mungkin sedang merenungi kesalahannya pada Ibunya itu atau sedang menyusun kata untuk memberontak kembali?  Tio yang jauh disana sebenarnya sedang merenungi kesalahan-kesalahannya yang tak terbatas oleh cakrawala, memperbaiki diri dan meluruskan apa yang selama ini dianggapnya benar, mulai kembali terbuka hati dan pikirannya untuk berfikir jernih, memperbaiki kesalahannya dan berusaha mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa yang memberikannya malaikat yang mengasihinya dengan tulus tanpa meminta sepucuk balasan yaitu Ibunya. Hampir sebulan sejak kejadian itu barulah Tio menghubungi Ibunya kembali. Bukan mengelak atau memberontak lagi tapi justru Tio mengakui kesalahan tentang apa yang telah dilakukannya. Ibunya memang sudah memaafkannya, tapi bagaimana dengan yang diatas sana tidak ada yang tahu. Setelah itu Ibunya melamarkan Tasya setelah Tio memastikan kelanjutan tentang hubungannya itu. Dan memang benar apa yang Ibunya sampaikan sebelumnya mengenai pertanyaan dari ayahnya Tasya kapan anaknya akan dipersunting oleh Tio. Melalui telepon karena Tio masih bekerja di negri orang nun jauh disana hanya diam seribu bahasa saat ditanya hal itu, menyusun kata agar menjadi kalimat yang padu dan melawan lidah yang kelu Tio menjawab akan menikahi Tasya setelah pulang dari negri orang. Pertanyaan lain pun datang “Memangnya kamu pulangnya kapan dari situ?” Dua tahun lagi dijawabnya, lalu Tasya dan keluarganya mengiyakan lamaran. Dua puluh bulan kemudian Tio pulang, dia kaget melihat Ibunya terbaring di tempat tidur. Setengah tahun sebelum Tio pulang dia tak bisa saling berhubungan dengan Ibunya maupun Tasya karena dipindahkan ke tempat yang terpencil yang sama sekali tidak ada jaringan/sinyal jadi dia tidak tahu kabar Ibunya, sementara saat hendak pulang dia menghubungi Ibunya tetapi Ibunnya tidak ingin Tio tahu tentang keadaannya jadi adiknya yang menjawab dan mengatakan kalau Ibunya sedang pergi ada kepentingan dan pulangnya masih lama.  Karena Ibunya terlalu memikirkan Tio menjadikannya tak mampu bangkit melawan apa yang menyerangnya yaitu struk. Tio langsung memeluk Ibunya dan meminta maaf sambil menangis karena telah mengecewakan Ibunya itu. Tak lama setelah kepulangan Tio Ibunya sudah tidak mampu melawan struknya hingga akhirnya saat bertemu wajah pagi yang sedang murung Ibunya menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan tiga anak yang selama ini amat sangat disayanginya. Tio menangis, begitu pula adik-adiknya. Namun sebelum Ibunya menghembuskan nafas terakhirnya, Tio berjanji tidak akan mengecewakannya lagi tapi kini kesempatan itu sudah hilang meski begitu Tio tahu bahwa Ibunya pasti melihatnya dan tersenyum bahagia di surga. Selain itu Tio juga berjanji akan menemani dan membahagiakan Tasya teman sehidup sematinya yang akan menjadi sahabat hidupnya.


~ THE END ~

1 komentar:

Blogroll

About