Kala itu bulan puasa,
seperti biasa matahari menyelinap diantara dedaunan, tibalah amplop coklat yang
ditujukan untuk Tio Adi Wicaksana , kini umurnya hendak 25 tahun. Meskipun anak
pertama, dia tidak pernah membantu meringankan beban orang tuanya yang masih
menyekolahkan adiknya yang baru kelas 1 SMA dan kelas 6 SD. Tak banyak yang
diucapkan saat masih dirumah setahun yang lalu, hanya sepenggal kata yang
membekukan hari. Bukan sedang sariawan ataupun sakit tenggorokan, melainkan
memendam kenyataan lain dari suatu kenyataan yang membutuhkan pernyataan.
“Gimana
kuliahmu, Nak?” tanya Ibunya waktu ia masih belum lulus kuliah.
“Tinggal
nunggu di ACC sama dosen, bu..” jawabnya. Selalu begitu dia menjawab, dan
selalu begitu Ibunya bertanya mengenai kuliah Tio. Sejak masuk kuliah S1 hingga
sekarang telah memakan waktu tiga
perempat windu lamanya, entah Tio berbohong atau tidak Ibunya tak tahu.
Seringkali Ibunya curiga, tapi apalah daya hendak dikata, hanya bentakan yang
didapat dari anaknya itu. Jika disinggung mengenai itu Tio sering kali
menghindar raut wajahnya berubah tak seperti sebelumnya, katup mulutnya
terkunci entah menyimpan apa. Tak pernah mengatakan yang sebenarnya.
Entah
sudah berapa puluh kali Ibunya bertanya mengenai kuliahnya yang masih belum
berujung mengenakan trompi hitam lalu dia menyampaikan tentang waktu
kelulusannya.
“Bu,
udah di ACC laporannya sama dosen..” ucapnya pada Ibunya.
Ibunya dengan tersenyum lega menjawab, “Alhamdulillah
... Trus wisudanya kapan?” tanya Ibunya.
“Wisudanya
ngga usah ikut ya bu, yang penting udah lulus..” jawabnya dengan meyakinkan
pada Ibunya. Ibunya hanya mengiyakan karena tak banyak tahu menahu mengenai
masalah perkuliahan.
Sebulan
berlalu. Dua bulan berlalu. Namun Tio tak juga mencari pekerjaan, dirumah hanya
memburu bayang-bayang. Terkadang pertanyaan menggenai itu dari Ibunya datang,
begitu pula jawabannya.
“Tio,
kamu kan udah lulus, penginnya mau kerja dimana?” tanya Ibunya dengan lembut.
“Penginnya
di Ibukota bu, cari pengalaman dulu.” Jawabnya. “Seminggu lagi aku mau kesana,
cari kerja.” Lanjutnya.
“Ooh
gitu, trus besok mau nginep dirumah paman kan?”
“Iya
bu, daripada kost nanti tambah biaya.”
Ibunya
senang karena Tio hendak berangkat mencari pekerjaan. Sejak kecil hingga 25
tahun kebutuhannya selalu dipenuhi orang tuanya karena itu kewajiban mereka
sebagai orang tua, tapi tanpa merasa terbebani Tio tak pernah mencoba kerja
sambal kuliah, sampai rokok dia juga meminta uang untuk membelinya, tak hanya
sebatang dua batang sehari tapi kadang mencapai satu bungkus, entah berapa
banyak bungkus yang dia hisap itu dari mulai merokok sampai kini.
Keberangkatannya
saat kabut putih masih menutupi jarak pandang kedepan di pagi hari ditemani
seberkas cahaya yang menembus menerangi jalan dipagi hari, Tio mengenakan jaket
kulit agak tebal berwarna hitam dan tas warna abu-abu yang dimilikinya sejak
masih mengenakan seragam putih abu-abu yang harganya tak murah, jadi hingga
kini belum rusak berisi pakaian serta dompet bertuliskan kata-kata motivasi
-tapi apakah memotivasinya atau tidak- yang berisi uang -dari ibunya tentunya.
Di Jakarta ia bersama pamannya yang hanya memiliki satu anak menyambutnya
dengan baik, tapi kelihatannya istrinya tidak menyukai jika ada saudara dari
pamannya datang apalagi menginap beberapa hari disana. Tak lama disana, Tio
pulang kembali ke kampung halamannya hendak mengambil beberapa surat keluarga
yang diperlukan.
“Bu,
besok aku mau pulang ambil surat yang kurang terus berangkat lagi.” Ucapnya
pada Ibunya melalui telepon.
“Ya
udah ngga papa, kamu udah dapet kerja apa?” tanya Ibunya.
“Di
expor-impor barang bu.”
“Kamu
berangkat dari situ kapan?”
“Nanti
sore bu, besok pagi ada yang jemput kan?
“Palingan
Ibu yang jemput besok Ti.”
“Ya
udah bu.”
Cukup banyak yang dibicarakan oleh Tio dan Ibunya saat
itu. Sesampainya Tio dirumah hari berikutnya langsung kembali ke Jakarta lagi.
Entah sebenarnya kemana, tapi itulah tujuan Tio yang disampaikannya pada
Ibunya.
Hendak
seminggu sejak kepulangannya yang terakhir kemudian hari kedelapan dia kembali
pulang ke rumah. Bukan untuk mengambil surat lagi atau apa melainkan hendak
mengemasi pakaian karena Tio ditugaskan di tempat yang jauh dari tanah
kelahirannya itu. Tio meminta uang untuk membeli keperluan yang mungkin
diperlukan saat dia bekerja disana, tanpa berpikir panjang Ibunya memberinya,
tak hanya untuk membeli keperluan tetapi uang saku untuk berangkat kesana juga
dikasih, karena begitu senangnya kalau anak sulungnya akan mulai bekerja,
terselip juga kekecewaan karena berpisah jauh dengan Tio meski masih bisa mendengar
suaranya lewat telepon tapi Ibu siapa yang ingin jauh dari anaknya. Saat sudah
mulai bekerja terkadang Tio masih meminta uang pada Ibunya, kartu ATMnya sudah
kadaluarnya alasannya. Namun pada bulan kedua Tio bekerja tak ada kabar apapun,
angin yang berlalu tak membawa kabar apapun tentangnya. Sebulan. Dua bulan.
Tiga bulan. Hingga sepuluh bulan masih tak ada kabar, tanda tanya gundah hati
Ibunya entah kapan akan terjawab kerinduan tentang anaknya. Antara kerinduan
dan jawaban itu mungkin terjawab dalam kesempurnaan waktu ataukan akan
tersimpan dilangit agar menjadi mendung yang mewakili perasaannya kini? Bagaimana kabar anakku? Sedang apa dia?
Mengapa dia tak memberi kabar? Begitulah yang terlintas dibenak Ibunya.
Apakah kerinduan itu hanya jadi mimpi diatas mimpi, hanya waktu yang akan
menjawabnya.
Amplop
coklat itu ternyata berisi surat kontrak Tio yang bekerja di negeri orang yang
jauh disana, Ibunya kaget dan bingung
awalnya. Kok disini tertulisnya kerja di
negri orang? Dia bilangnya di pulau sebelah? Tapi disini benar ada surat
kontraknya dan tanda tangan Tio, nama tempatnya di Denpasar. Kok bisa? Yang
bener ini yang mana? Gumam ibunya. Ya ternyata benar memang ada yang
mencurigakan tentang dimana Tio bekerja, karena kepulangan yang katanya mengambil
surat, keberangkatan selanjutnya bukan ke Jakarta melainkan ke Denpasar dimana
itu adalah letak perusahaan yang menerimanya bekerja. Tak lama setelah surat
ini datanglah sebuah amplop lagi, bukan dari tempat kerja Tio. Tertulis nama
Perguruan Tinggi dimana sebelumnya Tio kuliah, didalamnya berisi daftar
mahasiswa yang dikeluarkan. Lebih mengagetkan lagi karena ada nama Tio di
daftar itu. Surat-surat yang datang seperti pukulan yang datang bertubi-tubi,
sudah jatuh tertimpa tangga begitulah mungkin yang sedang dialami oleh Ibunya
Tio, air susu dibalas air ketuban yang diberikan Tio pada Ibunya yang telah
merawat dan memenuhi kebutuhannya secara materi. Hari berikutnya Ibunya Tio
lansung tumbang tak sanggup menerima kenyataan bahwa begitu lama ia dibohongi
oleh anaknya. Tio memang sebelumnya bilang sudah merampungkan S1nya, tapi
kenyataannya tak seperti itu, hanya sampai bangku D3 sudah dikeluarkan. Entah
apa alasan mengapa Tio tak serius bersekolah, entah berapa banyak biaya yang
dkeluarkan oleh Ibunya yang telah membanting tulang sendirian. Karena ayahnya
telah meninggal saat Tio masih duduk di bangku kelas 3 SMP karena kecelakaan,
sejak kecil Tio dan adik-adiknya tinggal dan dibesarkan oleh neneknya tanpa
Ibunya.
Hampa,
kesal, amarah, seluruhnya dirasakan oleh Ibunya Tio, ingin menumpahkan air
mata, tapi air matanya telah mengering menjadi sungai dimusim kemarau panjang
yang tak ada airnya. Setelah setahun tak ada kabar, tiba-iba Tio menghubungi
Ibunya dengan telepon, belum sempat banyak kata dari Tio, Ibunya menumpahkan
perasaan yang ia pendam selama setahun itu.
“Tio..
Sebenernya kamu kerja dimana?” tanya Ibunya dengan nada kecewa, Tio yang belum
dikasih tahu jika ada surat datang dari tempat kerja dan tempat kuliahnya.
Entah sebenarnya sudah tahu atau belum Ibunya tidak tahu. Sepertinya sudah tahu mengenai hal itu.
“Kan
aku dulu udah pernah ngasih tau bu.” Jawabnya.
“Kalo
kuliahmu sebenernya gimana?” tanya Ibunya lagi.
“Udah
selese bu, dulu kan juga udah dikasih tau..” Tio masih belum mengatakan yang
sebenarnya. “Emangnya kenapa sih bu, tanya-tanya begitu?” lanjutnya.
“Kemaren
ada surat dari tempat kerjamu… Ada yang mau kamu jelasin ngga sama Ibu?” tanya
Ibunya. “Trus ada surat dari Universitasmu, apa iya kalo kamu dikeluarin?”
lanjutnya. Banyak hal yang perlu ditanyakan pada Tio begitu pula sebaliknya
banyak yang harus dijelaskan Tio pada ibunya.
Tio diam sejenak, “Aku ngga nyelesain kuliah karna Ibu
ngga nurutin apa yang aku mau.”
“Ngga
nuruti apa lagi? Kamu sampe segitu besarnya masih Ibu cukupi semua kebutuhanmu
tanpa harus bekerja, liat yang lain. Yang lain udah kerja, sedangkan kamu? Kamu
beruntung, tinggal minta langsung dikasih.” Jawab Ibunya Tio.
“Ya..
Kebutuhan materiku memang Ibu penuhi, tapi tidak dengan kebutuhan batinku bu..”
jawab Tio pada Ibunya. “Aku kan dulu udah pernah minta buat lamarin Tasya..
Tapi apa?” lanjutnya. Tasya yang sudah dipacarinya sejak masih mengenakan
seragam putih abu-abu itu masih setia menunggu kepastian Tio yang masih
berlarian di cakrawala yang luas. Sempat Tasya hendak dinikahi oleh orang lain
saat Tio pergi bekerja yang tak tau dimana dan lama tak ada kabar darinya, tapi
mungkin memang benar kalau jodoh tak akan kemana, belum sempat dinikahi sudah
putus ditengah jalan. Memang Tasya menunggu kepastian, tapi setelah Tio
menyelesaikan kuliahnya, yang akhirnya Tio memupuskan harapan yang telah lama
dirajut.
“Tasya
udah bilang kan dulu kalo dia bakal nunggu kamu sampe selesai kuliah. Habis itu
tinggal nunggu keputusanmu, mau lanjutin hubungan apa nggak.” Jawab Ibunya.
“Tapikan
aku juga pengin ada ikatan sama Tasya bu.” Tio mengelak.
“Kamu
juga harusnya konsisten, selesein dulu apa yang harusnya diselesein, kuliahmu
juga buat masa depanmu, buat penuhi kebutuhan
kamu dan Tasya.” jawab Ibunya. “Apa kamu ngga kasian sama Tasya yang
udah nungguin kamu, tapi kamu ngga jelas kaya gitu, Ibu ya belum bisa menuhin
buat ngelamarin Tasya. Tasya butuh kepastian kamu. Kalo sekarang Ibu ngelamarin
Tasya, Ibu mau jawab apa kalo ditanya orang tuanya kapan kamu mau nikahin
anaknya?” tanya Ibunya lagi.
Sementara itu pikiran Tio
mengembara menembus batas langit mendengar kata-kata itu dari Ibunya yag hamper
50 tahun umurnya. Bola matanya yang dingin pudar diam tak terbaca, entah apa
yang tersembunyi dibenaknya kin Sedangkan Tasya, ia menasehati Tio karena
memang semuanya bukan sepenuhnya kesalahan Ibunya tapi lebih pada Tio yang
tidak mensyukuri yang diberikan oleh Ibunya. Tio yang dari kecil tidak dirawat
oleh Ibunya mungkin memang kekurangan kasih sayang dari orang tuanya terutama
Ibunya walaupun kebutuhan lainnya selalu tercukupi, hampir tidak pernah
kekurangan, begitu pula adik-adiknya. Itulah yang mungkin membuatnya tertekan
secara batin. Tio yang hanya menuruti hawa nafsu serta kurangnya usaha yang
dilakukan agar keinginannya segera tercapai.
Setelah percakapan itu Tio kembali
tidak menghubungi Ibunya, mungkin sedang merenungi kesalahannya pada Ibunya itu
atau sedang menyusun kata untuk memberontak kembali? Tio yang jauh disana sebenarnya sedang
merenungi kesalahan-kesalahannya yang tak terbatas oleh cakrawala, memperbaiki
diri dan meluruskan apa yang selama ini dianggapnya benar, mulai kembali
terbuka hati dan pikirannya untuk berfikir jernih, memperbaiki kesalahannya dan
berusaha mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa yang
memberikannya malaikat yang mengasihinya dengan tulus tanpa meminta sepucuk
balasan yaitu Ibunya. Hampir sebulan sejak kejadian itu barulah Tio menghubungi
Ibunya kembali. Bukan mengelak atau memberontak lagi tapi justru Tio mengakui
kesalahan tentang apa yang telah dilakukannya. Ibunya memang sudah
memaafkannya, tapi bagaimana dengan yang diatas sana tidak ada yang tahu.
Setelah itu Ibunya melamarkan Tasya setelah Tio memastikan kelanjutan tentang
hubungannya itu. Dan memang benar apa yang Ibunya sampaikan sebelumnya mengenai
pertanyaan dari ayahnya Tasya kapan anaknya akan dipersunting oleh Tio. Melalui
telepon karena Tio masih bekerja di negri orang nun jauh disana hanya diam
seribu bahasa saat ditanya hal itu, menyusun kata agar menjadi kalimat yang
padu dan melawan lidah yang kelu Tio menjawab akan menikahi Tasya setelah
pulang dari negri orang. Pertanyaan lain pun datang “Memangnya kamu pulangnya
kapan dari situ?” Dua tahun lagi dijawabnya, lalu Tasya dan keluarganya
mengiyakan lamaran. Dua puluh bulan kemudian Tio pulang, dia kaget melihat
Ibunya terbaring di tempat tidur. Setengah tahun sebelum Tio pulang dia tak
bisa saling berhubungan dengan Ibunya maupun Tasya karena dipindahkan ke tempat
yang terpencil yang sama sekali tidak ada jaringan/sinyal jadi dia tidak tahu
kabar Ibunya, sementara saat hendak pulang dia menghubungi Ibunya tetapi
Ibunnya tidak ingin Tio tahu tentang keadaannya jadi adiknya yang menjawab dan
mengatakan kalau Ibunya sedang pergi ada kepentingan dan pulangnya masih lama. Karena Ibunya terlalu memikirkan Tio
menjadikannya tak mampu bangkit melawan apa yang menyerangnya yaitu struk. Tio
langsung memeluk Ibunya dan meminta maaf sambil menangis karena telah
mengecewakan Ibunya itu. Tak lama setelah kepulangan Tio Ibunya sudah tidak
mampu melawan struknya hingga akhirnya saat bertemu wajah pagi yang sedang
murung Ibunya menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan tiga anak yang
selama ini amat sangat disayanginya. Tio menangis, begitu pula adik-adiknya.
Namun sebelum Ibunya menghembuskan nafas terakhirnya, Tio berjanji tidak akan
mengecewakannya lagi tapi kini kesempatan itu sudah hilang meski begitu Tio
tahu bahwa Ibunya pasti melihatnya dan tersenyum bahagia di surga. Selain itu
Tio juga berjanji akan menemani dan membahagiakan Tasya teman sehidup sematinya
yang akan menjadi sahabat hidupnya.
~ THE END ~

bagus banget.. :)
BalasHapus